Sejarah Organisasi IKPTM

Keberadaan Proyek Pengerahan Tenaga Mahasiswa yang lebih dikenal dengan sebutan PTM, bukan ibarat sebuah batu yang jatuh dari langit yang tidak tahu siapa yang melemparnya dan tidak tahu kemana arah batu itu ditujukan, bukan seperti itu, melainkan sebuah pemikiran (keputusan) sebagai hasil analisa melalui diskusi yang cukup panjang dan serius serta sangat dilematis antara pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (Kementrian PP dan K, nama waktu itu) dengan kelompok Pemuda-Mahasiswa (Organisasi Pemuda-Mahasiswa).

Seperti dimaklumi bahwa perjalanan Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sarat dengan perjuangan yang memakan banyak pengorbanan baik jiwa, materiil dan non materiil khususnya menghadapi upaya pemerintah Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Tekanan Belanda pada bangsa Indonesia berupa agresi militer yaitu Agresi Militer Belanda Pertama tahun 1947 kemudian disusul Agresi Militer Belanda Kedua tahun 1948 yang dapat menduduki Ibu Kota Republik Indonesia Yogyakarta serta menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan beberapa orang Menteri antara lain H. Agoes Salim dan dibuang ke Pulau Bangka dengan tujuan untuk menciptakan citra kedunia Internasional bahwa Negara Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.

Namun tipuan dan pengelabuan Belanda  ke dunia Internasional yang mengatakan bahwa Negara Republik Indonesia sudah tidak ada lagi, ternyata terbantahkan oleh kenyataan karena Negara-negara lain di dunia akhirnya tahu bahwa Pemerintah Republik Indonesia masih ada dalam bentuk Pemerintahan Darurat yang dipimpin oleh Mr.Sjarifuddin Prawiranegara dkk di Sumatera dan Pemerintahan Pengasingan diluar negeri (exile government) di India oleh dr.Soedarsono, LN Palar dan Mr. Maramis serta Tentara Nasional Indonesia masih utuh dan solid dibawah satu komando Panglima Besar Soedirman yangmemimpin perang gerilya didukung oleh rakyat Indonesia.

Pada saat itulah Pemuda-Pelajar-Mahasiswa Indonesia bangkit semangat juangnya untuk mengabdi kepada nusa, bangsa dan negaranya dengan sukarela meninggalkan bangku sekolah dan mengangkat senjata membentuk Corps Tentara Pelajar (TP) guna membantu Tentara Nasional Indonesia ikut perang gerilya melawan penjajah Belanda untuk mengusirnya dari Bumi Pertiwi Indonesia. Tidak sedikit anggota Tentara Pelajar yang gugur di medan perang selama perang gerilya tersebut. Bagitulah salah satu bentuk perjuangan pengabdian Pemuda Indonesia demi kepentingan keselamatan bangsa dan negaranya.

Setelah perjuangan Republik Indonesia berakhir di tahun 1949 dan pemerintah RI kembali berkuasa, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP&K) dalam merealisasi tugas “Mencerdaskan  Bangsa” menyadari beban yang berat untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan “Pemerataan” pendidikan di seluruh Indonesia. Tingkat Sekolah Lanjutan Atas (SLTA) sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda, namun hanya berada di Ibukota Propinsi, seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Makasar, Menado  dan Padang.

Menteri PP&K saat itu.Ki Mangoensarkoro dibantu  Sekretaris Jendralnya, Mr. Hadi berhasil membangun Sekolah Menengah Atas (SMA)  dibantu masyarakat setempat secara gotong royong hampir di seluruh kabupaten di  Indonesia. Namun muncul masalah tenaga pengajar belum tersedia, terutama di luar Jawa. Meskipun pemerintah sudah membuka sekolah keguruan  (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) tetapi belum mencukupi kebutuhan guru keseluruh Indonesia. Muncul gagasan untuk mengerahkan tenaga mahasiswa, kemudian diadakan proyek PTM (PengerahanTenagaMahasiswa), yang intinya memberi kesempatan para mahasiswa  minimum C1 (Lulus Propadius) untuk menjadi pengajar di SLTA di luar Jawa  dengan masa tugas minimum 2 tahun dengan kompensasi setelah mnegajar diangkat menjadi  PNS (PegawaiNegeriSipil) dan diberi tugas belajar melanjutkan studi sampai selesai.

Hasilnya luar biasa, yaitu :

  1. Sekolah Lanjutan Atas seperti SMA, SGA, STM di luar Jawa yang semula akan tutup, dibuka kembali dan berkembang sampai sekarang.
  2. Berhasil mengirim 1361 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu sehingga dapat membantu biaya pendidikannya sampai selesai menjadi sarjana, bahkan tidak sedikit yang mencapai gelar Profesor, Doktor dan Magister.

Dalam perjalanannya para sarjana yang telah selesai dalam pengabdiannya (ex-PTM) menghimpun diri dalam Ikatan Keluarga Pengerahan Tenaga  Mahasiswa  (IKPTM). IKPTM  terbagi menjadi 6 komisariat, yaitu :

  1. Komisariat Jakarta
  2. Komisariat Bandung
  3. Komisariat Yogyakarta
  4. Komisariat Semarang
  5. Komisariat Surabaya
  6. Komisariat Malang

Para mantan PTM yang tergabung dalam IKPTM tak ingin berhenti berbuat untuk bangsa dan Negara, beliau-beliau ini ingin para putera-puterimya mampu meneruskan perjuangan khususnya di bidang pendidikan. Dengan pemikiran dan perjuangan keras akhirnya terbentuklah organisasi GP PTM ( Generasi Penerus Pengerahan Tenaga  Mahasiswa). Pencantuman PTM (Pengerahan Tenaga Mahaseswa) pada nama orgasisasi GP PTM, sedangkan anggotanya bukanlah pelaku langsung PTM,  dimaksdukan para anggotanya mampu membawa semangat para mantan pelaku Proyek PTM dan mampu berbuat yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *