PTM – Tumpuan Hidupku – Dokter Bawadiman (PTM 1956-1959)

Alm. dr Bawadiman pada Acara Hardiknas 02 Mei 2015 di Kemendiknas, bersama Pak Anies Baswedan

Alm. dr. Bawadiman – PTM di Donggala tahun 1956–1959

Sebagai anak seorang janda, selulusnya dari SMA saya sudah tidak ingin meneruskan sekolah di perguruan tinggi. Saya paham kami tidak akan mampu membiayai kuliah. Lagipula saya masih punya adik 3 orang yang perlu dibiayai sekolahnya. Niatku untuk bekerja sudah bulat. Semasa SMA saya memang sudah menjadi loper koran untuk belajar mencari uang. Semenjak ayah meninggal, Ibulah yang membiayai kehidupan kami.

DITOLONG PTM

Ibu tidak setuju saya tidak kuliah. Ibu berjanji akan mengkonsultasikan dulu dengan Om-Om saya yang ada di Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta. Ternyata semua bersedia membantu biaya hidup saya, tetapi biaya kuliah tetap ditanggung oleh ibu. Saya memilih untuk kuliah di Yogyakarta karena merasa dekat dengan Om yang di sana daripada yang Surabaya dan Jakarta.

Setelah berada di Yogya, saya bingung untuk mendaftar kuliah di fakultas apa. Cita-cita saya ingin menjadi insinyur listrik. Saya sangat terobsesi untuk meng-kota-kan desa dengan listrik. Tapi karena jurusan elektro hanya ada di ITB, hal itu tidak mungkin. Setelah bicara dengan teman-teman, akhirnya saya memilih kuliah di Fakultas Kedokteran UGM.

MENDIRIKAN SEKOLAH

Di Yogyakarta saya dan beberapa teman mendirikan Yayasan Perguruan Menengah Nasional yang mengelola sebuah SMP. SMP kami dulu terkenal dengan nama SMP Pugeran. Saya menjadi sekretaris. Setiap tahun ajaran baru, kami melakukan rapat dengan orang tua. Di sana kami diskusikan kebutuhan pembelajaran untuk setahun ke depan.

Atas sumbangan dari orangtua siswa kami pun bisa membeli bahan-bahan seperti kapur tulis, kertas dan lain-lain yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran di sekolah selama setahun. Sekolah kami tidak pernah mengalami kekurangan alat tulis selama setahun.

Saya katakan bahwa nanti setelah berangkat ke Padang, saya mohon dikabari kapan waktu pernikahan dilangsungkan. Saya akan pulang untuk menikah di Jawa. Soelistyah hanya diam saja dan mengantar saya sampai stasiun Purwokerto. Saya berangkat ke Jakarta.

Tetapi keberangkatan saya ke Bukit Tinggi terhambat karena adanya PRRI. Saat itu petugas di Departemen Pendidikan menyerahkan kepada saya sepenuhnya, apakah ingin berangkat ke Bukit Tinggi apa tidak. Mereka menyarankan agar keberangkatan itu dibatalkan saja sambil mencari tempat lain untuk tugas mengajar. Saya teriam saran itu. Saya pulang lagi ke Semarang dari Purbalingga.

 

MENIKAH

Mendengar hal ini, ibu dan calon mertua saya sangat senang. Mereka langsung meminta agar saya menikah dengan Soelistyah dahulu. Tanpa sepengetahuan saya, ayah Soelistyah mengirimkan surat ke Menteri Pendidikan, isinya mohon agar keberangkatan saya ditunda hingga setelah Januari. Pernikahan memang direncanakan dilangsungkan bulan Januari.

Saya juga mengirimkan surat pernyataan pribadi ke Departemen Pendidikan. Ternyata surat dari calon mertua saya sudah sampai juga di Jakarta. Hal itu memperkuat alasan mereka untuk memberikan izin nikah terlebih dahulu. Saya sangat bersyukur.

Pernikahan pun dilangsungkan di Bukateja, Purbalingga. Tiga hari kemudian saya bersama istri yang pengantin baru berangkat ke Jakarta. Keluarga sebenarnya menahan, tapi kami sudah bulatkan tekad untuk tidak menunda keberangkatan.

TERDAMPAR DI MAKASSAR

Dalam perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, ketika posisi kapal di Selat Makassar, ada seorang penumpang yang mengajak main bridge. Saya pun ikut dalam permainan itu dan berpartner dengan penumpang lain. Kami bermain sambil berbicara berbagai hal. Di antaranya saya utarakan tentang arah dan tujuan perjalanan kami.

Tiba-tiba ombak besar datang. Meja bridge bergeser. Permainan bubar. Kami kemudian masuk kamar masing-masing.

Tidak lama ada pengumuman bahwa kapal Swarten Horn tidak jadi berlayar menuju Menado, tetapi hanya sampai Makassar dan membelok ke Ambon. Semua penumpang yang menuju ke utara harus turun di Makassar. Bagaikan tersambar petir, saya bingung apa yang harus kami perbuat di Makassar. Uang kami tidak banyak. Saya di sini juga membawa anak orang.

SANG PENOLONG

Sesampai kapal di Makassar, barang diturunkan oleh buruh di pelabuhan. Kami bingung harus berbuat apa. Di pelabuhan saya termenung duduk di atas koper barang.

Tiba-tiba dua orang tentara berpangkat Letnan Muda dan Sersan Mayor mendatangi saya dengan gaya militer yang khas.

“Apa betul Anda Pak Bawadiman?” tanya sang Letnan Muda.

Mendapat pertanyaan tersebut, saya kaget. Tapi saya berusaha tetap tenang.

“Betul,” saya pun menjawab.

“Saya diperintah Komandan untuk mengantarkan Bapak mencari penginapan di Makassar,” sang Letnan berujar.

Saya pikir betul juga tentara ini, saya memang harus mencari penginapan. Saya lihat sepertinya Letnan ini adalah orang yang bisa dipercaya. Dia juga menggunakan logat Jawa yang membuat hati saya semakin tenang. Maklum saja, saya saat itu sangat khawatir dengan gerombolan Kahar Muzakkar.

Saya ingin mengajak istri saya untuk ikut mencari hotel. Tapi kemudian Letnan Satu berkata:

“Tidak, Pak! Bapak tidak perlu membawa istri. Istri Bapak akan dijaga Sersan Mayor.”

Saya bingung dan ragu apakah saya harus meninggalkan istri di pelabuhan. Saya pun berpesan kepada istri untuk berteriak sekuatnya apabila terjadi sesuatu. Kami berdua pasrah.

Saya pergi mencari hotel dengan jeep tentara bersama Letnan Muda, sementara istri saya tinggal di pelabuhan. Tiga jam lebih kami mengitari kota Makassar, tapi tak ada satu kamar pun hotel yang kosong. Capek dan lelah, saya minta diantar kembali ke tempat istri saya. Alhamdulillah istri saya masih di sana, tidak kurang suatu apa.

Di depan istri saya, Letnan Muda itu berkata:

“Pesan Komandan, karena Bapak tidak dapat penginapan, Bapak diminta menghadap Komandan.”

“Maaf, Komandan Anda siapa?” tanyaku.

“Letnan Satu Supangat,” katanya.

Baru saya ingat, ternyata yang dimaksud adalah partner bridge saya sewaktu di kapal yang berpangkat Letnan Satu.

Kami kemudian meluncur ke mess perwira, di dekat lapangan Karebosi, Makassar. Di sana kami bertemu komandan yang dimaksud. Ternyata dia adalah komandan dari semua mess perwira di sana. Kami ditempatkan di mess perwira dan dijamu dengan istimewa. Di dapur mess tersedia makanan yang lengkap: nasi, daging, sayur dan bahan-bahan makanan lainnya. Saya sampai menangis dalam batin mensyukuri pertolongan yang kami terima. Luar biasa Letnan Supangat!

Photo Dokumentasi Alm. dr. Bawadiman di IKPTM

SAMBUTAN DONGGALA

Dua hari sebelum berangkat, saya mengirimkan surat ke pemerintah daerah Donggala. Saya diberitahu bahwa kapal Kalabei yang akan membawa kami akan merapat ke Donggala. Sesampainya di Donggala, ternyata kapal tidak bisa merapat ke pelabuhan. Ada perahu kecil yang merapat ke kapal. Perahu tandu merupakan semacam boat dengan bagian belakangnya diberi papan kayu yang banyak. Perahu tandu itu mengangkut berbagai barang, dari manusia sampai mobil.

Tiba-tiba ada kuli barang yang berteriak-teriak menyebut nama saya:

“Guru Bawadiman! … Siapa yang namanya Guru Bawadiman?!”

Saya dan istri sangat terkejut dan bingung. Untuk sesaat kami diam dan tidak merespon teriakan itu. Tapi setelah berulang-ulang diteriakkan akhirnya saya berkata

“Nama saya Bawadiman, ada apa?”

“Bapak silahkan turun! Barang akan kami urusi”, kuli itu berkata lagi.

Saya sempat Khawatir, tapi saya sudah pasrah. Saya pun turun ke kapal tandu.

“Selamat datang Pak Bawadiman!”, begitu teriakan yang saya dengar dari Pelabuhan.

Saya melihat dari kejauhan, di pelabuhan telah berjejer mereka yang memperkenalkan diri sebagai murid-murid saya. Rasanya sangat senang dan haru. Saya diperkenalkan satu per satu kepada mereka.

Kemudian saya diantar ke kawedanan dengan jeep. Saya bertemu dengan Wedana bernama Pak Kasim. Ketika sedang berbincang, saya sempat terpikir soal barang-barang kami di kapal.

Namun, tiba-tiba kuli pelabuhan tadi datang dan mengatakan bahwa semua barang saya sudah diantar ke hotel. Saya dan istri pun segera menuju ke hotel, dan benar saja: semua barang telah sampai di sana tanpa ada yang hilang.

Saya sangat bersyukur. Niat baik ini selalu dimudahkan oleh Allah SWT.

GURU PERTAMA

Keesokan harinya saya pun berangkat ke sekolah SGA Donggala. Saya diterima oleh Kiai Haji Dahlan, PMG yang akhirnya menjadi banyak membantu saya. Saat itu Syahrul, direktur sekolah, tidak ada di tempat karena sedang berada di Makassar. Saya baru tahu kalau ternyata sekolah ini betul-betul baru dan hasil swadaya masyarakat setempat, bukan sekolah milik pemerintah. Belum ada guru lainnya. Saya adalah guru pertama di sana.

Muridku saat itu hanya satu kelas. Waktu itu saya berumur 24 tahun. Ternyata muridku pun ada yang seumuran denganku. Jumlah murid saat itu hanya ada dua. Di saat mendatang, kelas bertambah jadi lima kelas.

Bahan-bahan pelajaran sudah tersedia. Saya mengajar Ilmu Alam, Berhitung, Ilmu Jiwa, dan Olahraga. Saya juga memiliki sertifikat sebagai guru olahraga dari masa kuliah.

Saya kemudian dijadikan wakil direktur bidang pendidikan oleh Pak Syahrul. Bidang kesiswaan dipegang oleh Rex Gustaaf Dumalang. Kami berbagi pelajaran sesuai bidang masing-masing. Namun karena Pak Syahrul sendiri jarang di sekolah, sering ke Makassar, maka saya pun merangkap sebagai pemimpin sekolah.

Karena jumlah guru sangat terbatas, saya mendatangi Kepala SMP Negeri dan SGB. Mereka bersedia membantu mengajar. Bu Kasim, istri Wedana, juga bersedia menjadi pengajar Bahasa Indonesia.

Setelah beberapa waktu datang lagi 4 guru PTM, termasuk Pak Syam dari UGM dan Ai Ponto dari Manado lulusan BPI. Saya sangat bersyukur karena jumlah guru sudah cukup dan tidak perlu mencari tambahan lagi.

KEGIATAN-KEGIATAN

Dalam rangka mencari dana untuk siswa, kami berhasil menggalang swadaya untuk melakukan Pentas Seni Budaya. Saya menjadi sutradaranya. Ini dianggap cukup sukses oleh masyarakat di sana.

Selain itu, kami juga berhasil mewujudkan Pekan Olahraga Siswa, yaitu kegiatan lomba olahraga antar siswa SGA, SMP Negeri, sekolah Tionghoa, dan juga SMA swasta yang ada di Donggala. Cabang yang dipertandingkan adalah atletik lengkap, sepak bola, dan voli. Peralatan dan lapangan memang sudah disediakan di sekolah kami oleh Departemen Pendidikan.

Setiap peringatan kemerdekaan dan sumpah pemuda, kami menyelenggarakan pawai kebudayaan. Siswa-siswa tampil menampilkan berbagai lagu sesuai jaman kemerdekaan. Siswa-siswa juga memakai pakaian adat yang berbeda-beda sesuai asal mereka. Bhineka tunggal ika kami nyanyikan dengan suara. Mereka adalah anak-anak bangsa yang beragam, bukan Belanda, Jepang dan lainnya.

Saya juga terakhir diangkat sebagai Guru Kepala (GK) di sekolah GSR, yaitu sekolah swasta yang kami dirikan bersama Rex Gustaaf Dumalang. Saya juga menjadi direktur sekolah GSR tersebut. Rex Gustaaf menjadi guru semua sekolah di sana, sedangkan saya ketua PGRI.

Tahun kedua di Donggala, saya dipanggil pulang untuk menjalankan tugas belajar. Saya berkirim surat ke Jakarta meminta agar keberangkatan ditunda. Keinginan saya adalah melihat hasil didikan saya lulus dari sekolah itu. Mereka adalah angkatan pertama. Hal ini disetujui oleh Jakarta.

Saya merasa sudah merasa bahagia di sini. Saya ungkapkan keinginan untuk tetap tinggal. Saya ungkapkan kepada mereka bahwa saya ingin menjadi guru tetap di sana. Namun istri saya tidak setuju karena tugas belajar sudah merupakan bagian dari perjanjian yang saya lakukan dengan Departemen Pendidikan.

PEMBERONTAKAN

Permesta dibawah kepemimpinan Kapten Vence Samuel di Menado merubah deklarasi Permesta di Makassar jadi anti suku selain menado. Dihembuskan lah mereka anti jawa, anti bugis, anti makassar dan lain lain.

Di Donggala pun mereka mengumpulkan semua ormas partai politik. Saya sebagai ketua PGRI termasuk yang di undang dalam pertemuan tersebut. Kami di minta menyetujui dan mendukung apa yang mereka sampaikan. Karena merasa bahwa nyawa saya bisa terancam, maka saya pun menandatanginya. Saya menggunakan nama B.A.S Siswodisasmito. Mereka sempat bertanya kok namanya bukan Bawadiman. Tapi saya bisa menjawab dengan cukup taktis.

Permestapun mengumumkan di Donggala, mereka telah mendapat dukungan berbagai ormas termasuk PGRI. Guru guru pun protes ke saya. Saya katakana “Saya tidak tahu siapa yang tandatangan”.

Karena perekonomian sudah kacau. Akhirnya sekolah saya liburkan. Saya tidak ingin ada siswa saya yang direkrut menjadi anggota pemuda Permesta. Strategi ini cukup berhasil, semua siswa pulang ke daerahnya masing masing, sehingga tidak ada murid saya jadi anggota. Tetapi di sekolah lain banyak yang menjadi anggota Permesta, diantaranya Tokoh Guru dan Direktur SGB. Seiring tokoh guru itu lewat depan tempat tinggal saya dan memancing emosi dengan menembakan senjata brennya.

Ada satu batalyon Permesta yang membelot melawan Kapten Vence Samuel, mereka di pimpin oleh Pieter. Melihat Permesta mulai terpecah, pemerintah dengan cepat menurunkan pasukan dari Batalyon Brawijaya ke kota Donggala. Untuk sesaat suasana di Donggala ketika itu cukup kondusif.

Tapi sebagai orang Jawa, saya menyukai olah batin. Perasaan saya mengatakan saya harus mengungsikan anak dan istri ke Jawa. Ketika itu ada dua kapal yang akan ke Surabaya, yaitu Pasudu dan dan Paserang. Istri dan anakku yang masih berusia 5 bulan naik Kapal Pasudu. Kedua kapal sempat di bom oleh Permesta, tapi tidak mengenai sasaran.

Ketika itu istri wedana dan istri dokter di Donggala juga ikut pulang ke Jawa. Saya melepas kepergian istri sampai kapal hilang di horizon.

Saya di marahi dan dimaki-maki habis oleh Haji Dahlan. Dia menganggapku sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab karena melepas-kan anak istri pergi sendiri. Saya juga sempat khawatir kalau terjadi sesuatu. Tapi sekali lagi saya benar-benar sudah pasrah, saya berharap tidak terjadi apa-apa.

Ternyata ditengah jalan kapal Pasudu dan Paserang di serang lagi. Setelah bertemu dengan istri lagi, dia bercerita kalau anak kami sempat diambil koki dapur untuk diselamatkan. Untung saja kapal Pasudu dan penumpangnya selamat sampai Surabaya. Tapi tidak demikian dengan Kapal Paserang yang hancur di bom oleh Permesta.

Ayah mertua mendengar kedatangan istri saya setelah diberitahu oleh om di Surabaya. Dia pun berkirrim surat ke Palang Merah Indonesia yang kemudian mengumumkan di radio bahwa istri saya telah selamat sampai Surabaya. Salah satu murid saya bernama Ibrahim men­ dengar berita ini di radio. Dia pun menginfokan berita gembira ini ke saya dan Haji Dahlan.

Tidak selang satu hari dari keberangkatan istri saya ke Jawa. Pagi jam 6 kota Donggala di bom habis-habisan oleh Permesta. Pengeboman ini dilakukan oleh Allen Pope, seorang tentara bayaran CIA yang mem­ bantu Permesta.

Saya ketika itu sedang berada di pelabuhan. Saya melihat kapal-kapal di bom. Bersama 2 orang murid yang setia, kami pun naik ke bakar, sebuah kapal boat yang ada di sana. Setelah mengecek bahan bakar, saya kemudian ikut membantu menolong orang-orang yang terlempar ke laut setelah kapal dibom. Beberapa dari mereka yang terluka parah saya layani. Ada yang hanya tinggal badan, kaki dan wajahnya terbakar. Saya itu benar-benar tidak pernah terbayang sebelumnya oleh saya.

Kapal-kapal hancur. Saya menolong seorang kapten kapal perang Belanda karena kedua kakinya terluka. Teriakan-teriakan dari pelabuh­an berusaha mengingatkanku “Minggir!!!… minggir!!… Kapal terbang masih di atas”. Seorang mayor tua saya selamatkan setelah dia hampir hanyut di laut. Bahkan ada yang sampai saya kasih cawat, karena su­dah tidak berpakaian lagi. Entah apa yang kupikirkan saat itu, saya su­ terus berusaha menolong mereka yang terluka sebanyak-banyaknya.

Selanjutnya kota Donggala mendapat ultimatum dari Permesta. Apa­ bila tentara Soekarno tidak menyerah sampai jam 11 esok harinya, maka Donggala akan mereka habisi. Lagi. Kami tidak habis pikir, apa yang akan mereka perbuat.

Saya pun bergabung dengan kompi Pak Muslimin dari batalyon Brawi­jaya. Kami bersiap untuk mundur. Kami sudah atur untuk mundur ke Selatan. Lebih baik kami bertemu dengan pasukan Kahar Muzakkar daripada Permesta.

Esoknya, kami semakin tegang. Cemas menunggu apa yang akan terjadi dengan kota Donggala. Mendekati jam 11, tidak terdengar suara apa pun. Jam 11 pun tiba, tidak ada sesuatu yang terjadi. Ternyata setelah sekian lama kami dapat informasi. Pangkalan Mapanget Menado yang meru­ pakan landasan pesawat Permesta sudah dihancurkan oleh Tentara Republik. Kami sangat senang. Suasana menjadi tenang kembali.

PULANG DAN MENERUSKAN PENGABDIAN

Akhirnya saya pun pulang kembali ke Yogyakarta untuk meneruskan tugas belajar di UGM. Selesai tugas belajar di tahun 1967, saya ber­ tugas menjadi dokter di Nusa Tenggara Barat. Rupanya pengalaman selama PTM di Donggala membuatku menyukai hidup di luar Jawa.

Karirku dengan cepat menanjak di sana. Saya pernah menjadi Pejabat Kakanwil Kesehatan Propinsi NTB. Juga dokter kepala bagian penyakit dalam di RSU NTB. Pejabat Kepala RSU NTB dan Kepala Direktorat Daerah Pembinaan Kesehatan Propinsi NTB. Selain itu saya juga per­ nah menjadi dosen di Universitas Mataram dan IKIP PGRI Mataram.

Selanjutnya saya melanjutkan pengabdian dengan menjadi anggota/ Ketua Fraksi DPRD Gotong Royong NTB. Kemudian meningkat men­ jadi Wakil Ketua DPRD NTB.

Sejak tahun 1977 saya menjadi anggota DPR selama tiga periode hing­ ga tahun 1992. Dan anggota MPR RI hingga tahun 1999. Cukup ba­ nyak prestasi dan pengalaman yang saya dapatkan di sini. Saya pernah menjadi Ketua Pansus RUU tentang Pendidikan Nasional. Juga Ketua Pansus RUU tentang Kesehatan. Selain itu saya juga pernah menjadi anggota delegasi RI ke Sidang Umum PBB.

Saat menjadi anggota DPR ini, saya pernah ke kembali ke Donggala. Saya kumpulkan mantan murid saya. Di antara mereka ada yang men­ jadi Sekda, Ketua DPRD dan lain-lain. Mereka menyatakan terima kasih atas pedoman hidup yang saya tanamkan yaitu berjuang tanpa mengenal menyerah, ciptakan pergaulan dilandasi kesopanan, berperilaku jujur dalam mengemban tugas, berani bertanggung jawab serta menjaga persatuan sesame warga/teman.

Profil Pak Bawadiman (dokter umum)

Tempat tanggal lahir  : Buyaran, Demak, 5 Juli 1933
Pensiun PNS             : Tahun 1989

Nama Anak:

  1. Sri Bawaningrum Listianarini
  2. Endang Nursedyati Utami
  3. Triagung Djiwantoro (Almarhum)
  4. Rangga Hidayahanto
  5. Dyah Kusuma Wardhani
  6. Bowo Sidik Pangarso
  7. Dewi Mahanani Djati
  8. Dewi Mahanani Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *