Jogja dalam Pandangan Pak Wiratmo
Mengenang Akar, Membangun Jejak Perubahan
Dalam sebuah video singkat namun sarat makna, Pak Wiratmo, salah satu tokoh penting dalam sejarah IKPTM (Ikatan Kekeluargaan Pengerahan Tenaga Mahasiswa), membagikan pandangannya tentang Yogyakarta – sebuah kota yang tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga kawah candradimuka yang membentuk karakter dan nilai perjuangan generasi muda pada masanya.
Dari Tanah Rantau Menuju Akar Kebangsaan
Pak Wiratmo mengawali kisahnya dengan menegaskan bahwa Yogyakarta bukan sekadar kota pendidikan, tetapi juga menjadi ruang kebudayaan dan pergerakan. Banyak anak muda dari berbagai penjuru tanah air datang ke Jogja dengan semangat belajar, namun mereka juga pulang dengan identitas baru – sebagai insan yang berpikir kritis, memiliki rasa sosial tinggi, dan terlatih dalam gotong royong.
Beliau mengenang masa di mana program pengiriman mahasiswa seperti Tenaga Mahasiswa (TM) menjadi sarana anak-anak muda mengabdi ke daerah-daerah. Mereka tidak hanya “belajar”, tapi juga “membangun” dan “menghubungkan” antara ilmu dan realita di masyarakat.
Tumbuhnya Nilai-nilai Perjuangan
Dalam perjalanannya, Jogja mengajarkan tentang kesederhanaan yang bermartabat, kekompakan dalam keberagaman, serta ketajaman berpikir dalam dialog intelektual. Di tengah keterbatasan ekonomi mahasiswa kala itu, mereka justru mampu melahirkan gagasan dan gerakan besar yang berdampak luas. Nilai-nilai inilah yang terus hidup dalam dirinya hingga kini.
Pak Wiratmo secara khusus menyebut bahwa IKPTM bukan hanya organisasi kekeluargaan, tetapi juga wahana pembentukan nilai juang dan tanggung jawab sosial. Banyak anggota yang kini tersebar di berbagai bidang – pemerintahan, pendidikan, dunia usaha – membawa semangat yang sama: memberi kontribusi nyata untuk negeri.
Jogja Sebagai Simbol Harapan Bangsa
Di akhir pesannya, Pak Wiratmo menyampaikan harapan agar generasi muda IKPTM saat ini tidak melupakan akar sejarah dan nilai perjuangan. Jogja harus terus menjadi rumah bersama bagi semangat intelektual, tempat memulai mimpi besar, dan ruang bagi siapa saja yang ingin membaktikan diri untuk perubahan sosial.
“Jogja adalah rumah yang membesarkan idealisme kita. Tapi idealisme itu jangan hanya disimpan – harus dibawa pulang ke masyarakat,” pesan beliau dengan penuh semangat.
Insight Artikel:
Topik Utama:
Refleksi peran Yogyakarta dalam membentuk karakter sosial-intelektual mahasiswa generasi 70-an dan kontribusi IKPTM dalam pembangunan masyarakat.
Nilai Kunci:
Kebersamaan, pengabdian, idealisme, tanggung jawab sosial.
Pesan Utama: J
angan pernah melupakan akar tempat kita tumbuh. Bawa nilai perjuangan itu ke mana pun kita melangkah.
PROFIL PAK WIRATMO
GURU DENGAN SEMANGAT PENGABDIAN SEPANJANG MASA
Pak Wiratmo adalah sosok pendidik yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk dunia pendidikan di Indonesia. Lahir di Solo pada 10 Juli 1938, perjalanan hidup beliau penuh liku, semangat, dan dedikasi luar biasa terhadap ilmu pengetahuan serta kemajuan generasi muda. Berikut adalah kisah inspiratif beliau.
Masa Kecil dan Pendidikan Awal
Pak Wiratmo memulai pendidikan di Sekolah Rendah (SR) pada tahun 1945. Ketika kelas 4, agresi militer Belanda membuat kondisi pendidikan menjadi kacau. Sekolahnya di Solo dibakar, sehingga beliau harus belajar di kampung melalui tempat penampungan anak-anak yang dikelola oleh seorang bekas kepala sekolah, Bapak Siswowinarso. Tahun 1950, beliau kembali ke sekolah negeri dan memperoleh Tanda Tamat Belajar meskipun tidak lulus ujian akhir. Ia melanjutkan ke SMP swasta yang berjarak 5 km dari rumah dan ditempuh dengan berjalan kaki setiap hari.
Beliau mulai menyukai Ilmu Pasti di SMP, meski sempat tidak lulus pada tahun 1954. Tahun berikutnya, beliau pindah ke SMP Cokroaminoto 1 di Solo dan berhasil lulus pada 1955 sebagai satu-satunya murid bagian B yang lulus. Setelah sempat tidak sekolah selama setahun, beliau melanjutkan ke SMA Kanisius Petang, di mana beliau menyenangi mata pelajaran seperti Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Ilmu Ukur Ruang, dan Ilmu Ukur Melukis.
Menemukan Cinta pada Kimia dan Mengabdi sebagai Guru
Perjalanan Pak Wiratmo sebagai guru berawal dari pengalaman belajar yang unik. Beliau semula tidak menyukai pelajaran Kimia, namun berkat perhatian khusus dari gurunya, Bapak Sudaryo, beliau menjadi tekun dan akhirnya jatuh cinta pada mata pelajaran tersebut. Bahkan, orang tuanya membelikan papan tulis untuk mendukung semangat belajarnya di rumah, yang juga ia gunakan untuk membantu teman-temannya memahami pelajaran.
Tamat SMA pada 1959, beliau sebenarnya ingin kuliah Arsitektur, namun karena belum ada jurusannya di UGM, beliau memilih Farmasi. Karena keterbatasan biaya, beliau bergabung dalam Proyek PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa) dan menjadi guru di berbagai sekolah di Menado, Sulawesi Utara. Di sana, beliau mengajar hingga tujuh mata pelajaran di beberapa sekolah sekaligus, seringkali mengajar beberapa kelas dalam waktu bersamaan di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.
Pengalaman Mengajar dan Semangat Pengabdian
Di SMA Airmadidi, yang berada di tengah kebun kelapa, Pak Wiratmo mengajar Kimia, Aljabar, Ilmu Ukur, Ilmu Hewan, Tumbuh-tumbuhan, dan Kesehatan. Pada masa itu, keadaan darurat militer masih berlaku, dan beliau juga mengikuti pelatihan LKPS (Latihan Kemiliteran untuk Pamong Praja).
Tahun 1963, beliau menerima SK resmi sebagai guru dan dipercaya menjadi Koordinator Rayon untuk ujian. Selama mengajar di Menado, ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan budaya, termasuk kelompok sandiwara yang dipimpin oleh Bapak Hengky Sumuan.
Tahun 1964, Pak Wiratmo kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Farmasi UGM dalam rangka tugas belajar PTM. Setelah menyelesaikan kuliah, ia tetap memilih menjadi guru dan ditempatkan di SMAN 1 Sleman, Yogyakarta. Beliau menemukan jati dirinya sebagai guru karena merasa ada “gairah hidup” setiap kali berdiri di depan kelas dan berhasil membuat siswa memahami materi.
Menjadi Instruktur Nasional dan Kontributor Pendidikan Nasional
Tahun 1980, beliau mengikuti Penataran PKG (Pemantapan Kerja Guru) untuk guru IPA dan menjadi peserta terbaik di bidang Kimia. Pengalaman laboratorium semasa kuliah sangat mendukung keberhasilannya. Tahun 1981 beliau menjadi Asisten Instruktur, lalu naik menjadi Instruktur Nasional tahun 1982 setelah mengikuti pelatihan di Malaysia dan studi banding ke Thailand dan Australia.
Beliau dibebaskan dari tugas mengajar reguler dan aktif menatar guru-guru IPA di seluruh Indonesia, termasuk di luar Jawa seperti Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Aceh. Beliau juga turut menyusun buku pegangan guru dan siswa bidang IPA.
Tahun 1986 beliau mengikuti kursus di King’s College, London University dan pada tahun-tahun berikutnya terlibat dalam pembuatan soal UMPTM serta menjadi tutor Universitas Terbuka. Setelah pensiun pada tahun 1998, beliau tetap mengajar di SMA Bopkri 1 dan menjadi Asisten Luar Biasa di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma hingga akhirnya berhenti total setelah gempa Yogyakarta tahun 2006.
Penutup
Pak Wiratmo adalah teladan nyata pengabdian tanpa pamrih di dunia pendidikan. Semangat beliau yang terus menyala meski dalam keterbatasan, komitmen terhadap ilmu, serta kecintaan terhadap profesi guru menjadi inspirasi bagi generasi muda. Kini beliau menikmati masa pensiun bersama keluarga, dengan empat anak dan lima cucu yang menjadi bagian dari warisan perjuangan hidupnya.
Profil ini bukan hanya cerita tentang perjalanan seorang guru, tetapi juga kisah tentang dedikasi, perjuangan, dan cinta terhadap dunia pendidikan Indonesia.




