Prof. Dr. Koesnadi: Mengenang Peran Beliau sebagai Bapak PTM

Disadur dari Buku Kenang-kenangan PTM-IKPTM, Yogyakarta 2011

Meskipun ide dasar tentang pengerahan tenaga mahasiswa untuk menjadi guru SLTA di luar jawa berasal dari beberapa tokoh organisasi pemuda/mahasiswa yaitu Sdr. SOEHADI Ketua Corps Mahasiswa Pusat, Sdr. TATANG MAHMOED Ketua Pengurus Besar Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) dan Sdr. SOEFA’AT Ketua Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang mendiskusikan pada akhir tahun 1949, yang menghasilkan konsep yang dikirimkan kepada Menteri Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan Bpk. Ki MANGOENSARKORO pada Januari 1950 dan disusul dengan delegasi untuk mendiskusikan, akhirnya prinsip disepakati dan keluarlah Surat Putusan Menteri PP dan K No. 8230/A tertanggal 14 Agustus 1950 mengenai “Peraturan tentang Pengerahan dan Penempatan Tenaga Mahasiswa untuk Keperluan Pengajaran” sebagai landasan hukum pertama yang secara sah memberlakukan proyek Pengerahan Tenaga Mahasiswa menjadi tenaga pengajar SLTA di luar Jawa (Proyek PTM).

Guna segera dapat diwujudkan pengerahan tenaga mahasiswa dimaksud, Sdr. KOESNADI HARDJASOEMANTRI Ketua Badan Pekerja Dewan Mahasiswa Universitas Negeri Gajah Mada Yogyakarta membuat prakarsa mengajak beberapa teman mahasiswa untuk sudi memasuki Proyek PTM menjadi tenaga pengajar SLTA di luar jawa dan berhasil menghimpun 8 (delapan) orang mahasiswa (diantaranya 2 orang puteri) dari Fakultas HESP dan Teknik Universitas Gajah Mada, sebagai Angkatan Pertama dan Sdr. Koesnadi Hardjasoemantri sendiri turut mengambil bagian dan ditempatkan sebagai tenaga pengajar SMA di Kupang propinsi Nusa Tenggara Timur. Demikian jiwa kepeloporan beliau yang tidak hanya bisa mengajak, tetapi juga memberi keteladanan secara nyata, wujud satu kata dan satu perbuatan.

Setelah selesai menjalankan tugas mengajar di luar Jawa dan kemudian memperoleh tugas belajar, oleh Dewan Mahasiswa Universitas Negeri Gajah Mada, Sdr. Koesnadi Hardjasoemantri bersama Sdr. Sidarto (termasuk PTM angkatan 1) dipercaya untuk memimpin bagian dari dewan mahasiswa mengenai Penyelenggaraan Pengerahan Tenaga Mahasiswa yang akhirnya dibentuk Bagian Penyelenggara Pengerahan Tenaga Mahasiswa di Dewan Mahasiswa di semua Universitas Negeri yang ada.

Sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan Proyek PTM maka dengan Surat Putusan Menteri PP dan K No. 457304/S tertanggal 18 Mei 1957 dengan perubahan tanggal 27 Juli 1957 No. 67527?S, dibentuklah Panitia Pengerahan Tenaga Mahasiswa Kementerian PP dan K dengan Sekretaris Jenderal-nya Sdr. Koesnadi Hardjasoemantri selaku pegawai Kementerian PP dan K. Mulai saat itulah secara yuridis organisatoris pengendali pelaksanaan PTM ada di tangan Koesnadi Hardjasoemantri.

Beliau yang mengelola dan memantau penyelenggaraan PTM baik untuk bidang tugas mengajarnya maupun untuk bidang tugas belajar akibat PTM. Meskipun tugas yang tidak ringan, dengan kelugasannya, kesabarannya dan keluwesannya dan selalu berpikir untuk mencari solusi sebaik-baiknya jika ada masalah, maka proyek PTM berhasil dikelolanya dengan sukses oleh Sdr. Koesnadi Hardjasoemantri.

Karenanya tidak keliru kalau ada yang berpendapat bahwa Koesnadi Hardjasoemantri adalah “BAPAK PTM”. 

Demi kesuksesan mengelola proyek PTM, beliau rela berkorban untuk menunda penyelesaian studinya di Fakultas Hukum Universitas Negeri Yogyakarta. Kondisi semacam itulah yang menciptakan citra bahwa PTM tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan dari figur Koesnadi Hardjasoemantri.

Demi menjamin kelangsungan keakraban dalam persaudaraan antara sesama warga ex PTM beserta keluarganya yang telah merasa dan seperjuangan, maka dibentuklah organisasi yang bersifat paguyuban dengan nama “IKATAN KEKELUARGAAN PENGERAHAN TENAGA MAHASISWA” sebagai wadah untuk melakukan sambung rasa dan sambung pikir dalam upaya agar bisa tetap berpikir dan berbuat untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Beliau selalu hadir, kapan saja, dimana saja, bila ada pertemuan dan kegiatan yang berkaitan dengan IKPTM. Beliau selalu melontarkan gagasan untuk kesejahteraan anggota IKPTM dan memikirkan bagaimana agar IKPTM tetap bisa mempunyai produk yang berguna bagi bangsa dan negara, khusus di bidang pendidikan.

Dari pengalaman beliau mengelola proyek PTM itu pulalah beliau berhasil menelorkan konsep kebijakan pemerintah tentang Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi semua mahasiswa sebelum menyelesaikan studinya, kegiatan yang bernuansa untuk melatih kesadaran dan pentingnya arti pengabdian kepada masyarakat sesuai bidang ilmu yang digelutinya.

Beliau juga terus berusaha memberi saran kepada pihak yang berkompeten bagaimana cara memodifikasi agar proyek PTM dapat dijadikan sumber ide gerakan pengabdian para pemuda Indonesia yang berguna mengisi pembangunan bangsa dan negaranya.

Untuk itu pulalah maka Sdr. Koesnadi Hardjasoemantri diangkat sebagai “SESEPUH IKPTM” sampai dengan wafatnya pada tanggal 7 Maret 2007 akibat musibah kecelakaan pesawat terbang Garuda di Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta yang ditumpanginya, sewaktu beliau kembali ke Yogyakarta dari Jakarta. Semoga arwah beliau dapat diterima dipangkuan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih sesuai dengan amal kebaikan beliau selama mengarungi hidup di dunia ini. Aamiin.

Dengan segala liku-liku hidupnya dalam mengembangkan keilmuan, beliau dapat menyandang gelar Prof. Dr.H. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, ML, dan prestasinya yang menonjol adalah menciptakan landasan hukum tentang pengelolaan lingkungan hidup disamping pemikirannya di bidang pendidikan yang terus digelutinya.

Kata-kata mutiara yang pernah diucapkan beliau adalah:

“Ilmu adalah cahaya. Jika hidup tanpa cahaya, dunia menjadi gulita, meski kebenaran berada dekat dengan kita.

Telah lama bangsa kita terbelenggu dalam gulita.

Mari bebaskan bangsa kita dengan pendidikan, karena hakikat pendidikan adalah pembebasan manusia”

Prof. Dr.H. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, ML, —

Ungkapan yang sangat mengesankan yang mengandung arti yang dalam dari seorang pendidik yang mencintai kemajuan dan kebesaran bangsanya.

Menurut Koenadi, terdapat 4 (empat) tantangan dalam pelaksanaan proyek PTM yaitu:

  1. Upaya mendorong dan menyadarkan mahasiswa untuk mau memasuki proyek PTM.
  2. Bagaimana mahasiswa yang pada umumnya bukan dari fakultas ilmu pendidikan harus bisa mengajar dengan baik dan penuh tanggung jawab.
  3. Mahasiswa harus mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat lingkungannya tempat iya bekerja sebagai guru.
  4. Untuk mengelola proyek PTM diperlukan suatu pengorbanan tersendiri, karenanya Prof. Koenadi mengorbankan dirinya untuk menunda penyelesaian studinya sampai2 tahun.

Sulit rasanya untuk diuraikan satu persatu jasa dan prestasi almarhum Prof. Dr.H. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, ML di bidang pendidikan, kemasyarakatan dan kepemudaan.

Kenangan tentang Prof. Koenadi dari salah seorang warga ex-PTM, dr. Bawadiman dalam sebuah PUISI:

PENGABDIAN TANPA PAMRIH

K epribadianmu selalu merendah tak pernah menpuk dada.
O monganmu lembut tetapi tegas menyentuh hati yang mendengarnya.
E thos kerjamu patut diikuti generasi muda penerus cita-cita bangsa.
S enyummu manis menyejukan hati yang menatapnya.
N iatmu mengabdi pada bangsa dan negara tak dipungkiri oleh siapa aja
A jakanmu senantiasa bermuatan nilai kemanusiaan.
D irimu tak pernah menuntut dan mengharapkan balas jasa.
I de PTM menjadi guru luar Jawa berhasil dikelolanya

B agaikan bola salju gerakan PTM terus membesar di seluruh nusantara
A ntusias mahasiswa untuk mengabdi negara melalu PTM makin menggelora
P endidikan di luar Jawa bisa maju setara dengan saudaranya di Jawa.
A nak bangsa di luar Jawa bisa menuntut ilmu demi kemajuan hidupnya.
K arenanya pengabdian melalui PTM itu tidak ternilai harganya.

P emerintah dan masyarakat pun menaruh hormat dan menghargainya.
T unas bangsa di haribaan ibu pertiwi bisa maju bersama.
M eskipun demikian warga PTM tak pernah tinggi hati karena jasa-jasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *