Minggu, 23 Juli 2017,
Humas IKPTM
Dalam acara puncak HUT Bintaro Jaya ke-38 yang bertema “Cheerful Bintaroku” di Bintaro Jaya Exchange Mall, IKPTM (Ikatan Kekeluargaan Pengerahan Tenaga Mahasiswa) turut diundang untuk mendukung pencanangan Program Perpustakaan Sekolah dalam upaya peningkatan budaya membaca buku (literasi) di wilayah Kota Tangerang Selatan.
Hadir pula dalam kesempatan ini Ibu Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany yang turut mendukung program ini. “Mudah-mudahan program ini dapat membantu kami untuk membuat gerakan literasi sekolah secara masif dan bisa memberikan banyak manfaat untuk kita semuanya,” ujar Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany.
Sementara Ketua Panitia HUT Bintaro Jaya ke-38 Dicky Hartanto mengatakan, pada acara ini juga diumumkan mengenai Program Budaya Literasi, yang diharapkan bisa memajukan tingkat literasi di Indonesia. Khususnya, Kota Tangsel. “Mudah-mudahan gerakan literasi ini bukan momentum aja, tapi sampai selesai ada hasil yang nyata untuk Tangsel khususnya,” ujarnya.
Wakil dari IKPTM di acara ini Bpk. Satria Dharma, juga turut memberikan arahan tentang pentingnya Budaya Literasi di kalangan pelajar agar dapat terus belajar untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Program Literasi di lingkungan Bintaro Jaya ini juga tidak lepas dari peran Bpk. Gatot Setwo Waluyo (Dirut Bintaro Jaya) yang juga merupakan salah satu Ketua IKPTM dari Komisariat Jakarta yang terus mendorong peningkatan sarana dan pra-sarana pendidikan dan pengajaran untuk mendukung program sekolah di Indonesia.
Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca (Glenn Doman). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan “Reading is the heart of education”. Bagi komunitas Muslim, perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad adalah ”MEMBACA (IQRA)”
Kita perlu menanamkan budaya membaca pada anak sejak di SD dengan kegiatan membaca SETIAP HARI (bukan dengan himbauan atau slogan dan jargon). Program membaca setiap hari harus ada di sekolah dan masuk dalam kurikulum. Siswa memang harus setiap hari membaca buku di sekolah, entah selembar atau dua lembar. Ini mesti ditanamkan kepada siswa bahwa MEMBACA ITU WAJIB, utamanya bagi siswa yang beragama Islam sesuai dengan perintah Tuhan pada AlQur’an. Mereka berada di sekolah selama minimal 7 jam. Jika digunakan untuk membaca selama 15 menit setiap hari maka tidak akan mengganggu KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar). Lagipula membaca adalah bagian dari KBM.
Dalam konteks Indonesia, minat baca masyarakat kita sangat mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan berbagai permasalahan, seperti:
Sumber: Prof Anang M. Legowo (Komisariat Semarang)
- Hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai; padahal hal itu merupakan salah satu ciri kota modern.
- Perpustakaan yang ada di sebagian kecil kota-kota besar sangat kecil jumlah kunjungan pembacanya. Di Jakarta, contohnya, dari sekitar 10 juta orang penduduk, yang berkunjung ke perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% di antaranya yang meminjam buku. Ini berarti MASYARAKAT KITA TIDAK MEMBACA.
- Dari lebih dari 250.000 sekolah di Indonesia hanya 5% yang punya perpustakaan. Ini juga berarti SISWA KITA TIDAK MEMBACA.
- Anak-anak kita berkali lipat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca.
- Bahkan di sekolah, di mana anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, kita tidak memiliki program untuk menumbuhkan budaya membaca
- Kita melompat dari kondisi pra-literer ke pasca-literer tanpa masuk ke kondisi atau budaya literer. Budaya menonton telah menguasai masyarakat kita.
Semoga IKPTM dapat terus untuk meningkatkan program pendukung pembelajaran dan pendidikan di Indonesia oleh keterlibatan Generasi Mudanya di masa yang akan datang.
Humas IKPTM












