Oleh: Prof. Anang M. Legowo (Ketua IKPTM, 2019-2021)
Rasional
Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca (Glenn Doman). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan “Reading is the heart of education”. Bagi komunitas Muslim, perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad adalah ”MEMBACA (IQRA)”
Kita perlu menanamkan budaya membaca pada anak sejak di SD dengan kegiatan membaca SETIAP HARI (bukan dengan himbauan atau slogan dan jargon). Program membaca setiap hari harus ada di sekolah dan masuk dalam kurikulum. Siswa memang harus setiap hari membaca buku di sekolah, entah selembar atau dua lembar. Ini mesti ditanamkan kepada siswa bahwa MEMBACA ITU WAJIB, utamanya bagi siswa yang beragama Islam sesuai dengan perintah Tuhan pada AlQur’an. Mereka berada di sekolah selama minimal 7 jam. Jika digunakan untuk membaca selama 15 menit setiap hari maka tidak akan mengganggu KBM. Lagipula membaca adalah bagian dari KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).
Permasalahan umum yang terjadi
Dalam konteks Indonesia, minat baca masyarakat kita sangat mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan berbagai permasalahan, seperti:
- Hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak punya perpustakaan yang memadai; padahal hal itu merupakan salah satu ciri kota modern.
- Perpustakaan yang ada di sebagian kecil kota-kota besar sangat kecil jumlah kunjungan pembacanya. Di Jakarta, contohnya, dari sekitar 10 juta orang penduduk, yang berkunjung ke perpustakaan hanya 200 orang/hari dan hanya 20% di antaranya yang meminjam buku. Ini berarti MASYARAKAT KITA TIDAK MEMBACA.
- Dari lebih dari 250.000 sekolah di Indonesia hanya 5% yang punya perpustakaan. Ini juga berarti SISWA KITA TIDAK MEMBACA.
- Anak-anak kita berkali lipat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca.
- Bahkan di sekolah, di mana anak-anak kita menghabiskan sebagian besar waktunya, kita tidak memiliki program untuk menumbuhkan budaya membaca
- Kita melompat dari kondisi pra-literer ke pasca-literer tanpa masuk ke kondisi atau budaya literer. Budaya menonton telah menguasai masyarakat kita.
Hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan- menjadi program yang integral dengan kurikulum sekolah, apalagi menjadi budaya. Laporan UNDP tahun 2003 yang menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index – HDI) berdasarkan angka buta aksara posisi Indonesia berada pada urutan 112 dari 174 negara. Posisi ini berada di bawah Vietnam (urutan ke 109) yang baru keluar dari konflik yang berkepanjangan. Tahun 2010 Indonesia berada di Peringkat 108 dari 152 negara. Pada tahun 2011 index Human Development Index (HDI) Indonesia pada peringkat 124. Hal ini membuat Indonesia berada di perngkat terbawah di ASEAN dimana Singapore berada di peringkat 26, diikuti oleh Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (103) and the Philippines (112).
Hasil penelitian PISA menempatkan siswa Indonesia pada posisi 48 dari 56 negara di dunia di tahun 2006 dengan skor rata-rata 393. Minat baca rendah inipun terulang di 2009. Hasil penelitian PISA menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di nomor 57 dari 65 negara dunia, dengan skor rata-rata 402 sementara rerata internasional 500. Hasil uji tes PISA yang dilakukan tiga tahun kemudian yaitu pada tahun 2012 ternyata hasilnya lebih buruk lagi. Hasil PISA 2012 menempatkan siswa Indonesia pada posisi kedua terburuk atau posisi 64 dari 65 negara . Padahal Vietnam justru masuk pada posisi 20 besar. penelitian PISA menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di nomor 57 dari 65 negara dunia, dengan skor rata-rata 396 sedangkan rerata internasional 496.
Penyebab Gagalnya Peningkatan Minat & Pembudayaan Membaca Bangsa
1. Gagalnya Perpustakaan Sekolah.
Perpustakaan sekolah secara nasional boleh dikata telah gagal menciptakan budaya membaca pada siswa. Kunjungan siswa dan jumlah peminjaman buku sangat minim karena beberapa faktor:
- Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan,
- Peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal perpus- takaan sekolah merupakan sumber membaca dan sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Secara politis dan sosial
- Kurangnya political will dari pemerintah (Depdiknas) dalam menciptakan budaya membaca siswa.
- Kurangnya pemahaman dan kesadaran bangsa tentang pentingnya budaya membaca itu sendiri.
- Permasalahan budaya membaca dianggap belum merupakan critical problem. Banyak masalah lain yang dianggap lebih mendesak.
- Secara historis, budaya literer tidak banyak ditemui di masyarakat kita. Budaya literer belum memasyarakat dan hanya ditemukan pada masyarakat kelas atas.
- Masih tingginya tingkat illiterasi di masyarakat.
3. Masalah teknis di lapangan
- Tidak tersedianya buku bacaan karena rendahnya jumlah perpustakaan di Indonesia dan rendahnya jumlah buku.
- Kurangnya SDM di bidang perpustakaan dan rendahnya kualitas pengetahuan dan keterampilan mereka.
- Perpustakaan TIDAK pernah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan kita secara nyata.
Solusi
Apa yang harus kita lakukan untuk mengubah keadaan ini?
Harus ada upaya intervensi secara sistemik, massif, dan berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya membaca pada masyarakat (dunia pendidikan) sekarang juga. Kalau tidak, masa depan bangsa adalah taruhannya! Kita bisa memulainya dengan menjadikan membaca menjadi budaya di sekolah melalui program GERAKAN LITERASI SEKOLAH dengan mendeklarasikan Propinsi Jawa Tengah sebagai Propinsi Literasi
Apa itu GERAKAN LITERASI SEKOLAH?
GERAKAN LITERASI SEKOLAH adalah sebuah gerakan untuk menjadikan sekolah-sekolah memiliki budaya membaca setara dengan sekolah di negara-negara maju lainnya. Gerakan ini dimulai dari sekolah yang mau melaksanakan program Gerakan Literasi sekolah. Program ini akan mengajak sekolah menerapkan program membaca yang berkelanjutan (sustainable) di mana semua orang yang berada di sekolah (guru, siswa, kepala sekolah) melakukan kegiatan membaca setiap hari dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Gerakan ini bertujuan untuk menjadikan sekolah memiliki komunitas yang memiliki budaya membaca yang tinggi. Budaya membaca ditandai dengan tingginya jumlah buku yang dibaca di sekolah.
Bagaimana menjadikan sebuah sekolah mengikuti Program GERAKAN LITERASI SEKOLAH?
Dibutuhkan program intervensi pembudayaan membaca yang tepat, mudah dilaksanakan, dilakukan secara sistemik, komprehensif, merata ke semua komponen di sekolah, berkelanjutan, dan dikelola secara profesional oleh lembaga yang mampu menanganinya.
Apa keuntungan menjadikan Sekolah mengikuti Program GERAKAN LITERASI SEKOLAH?
Hasil Riset menunjukkan bahwa :
- Budaya membaca dari sekolah (1992) menunjukkan hasil trend PENINGKATAN PRESTASI siswa di sekolah-sekolah yang melakukan program membaca secara sukarela ini.
- Siswa yang memiliki budaya literasi membaca dan menulis akan menjadi siswa yang siap memasuki kehidupan modern dan memiliki tingkat daya saing yang tinggi. Siswa tersebut dengan mudah akan mampu mengikuti perkembangan kehidupan kota modern tanpa kehilangan jati diri.
- Sekolah yang mengikuti program ini akan dapat memiliki tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional yang lebih tinggi daripada sekolah lain di Indonesia. Riset membuktikan bahwa siswa yang nilainya pada peringkat 25% tertinggi menggunakan waktunya 59% untuk membaca lebih banyak daripada siswa yang nilainya 25% di bawah.
- Sekolah yang mengikuti program ini akan memiliki siswa yang memiliki budaya dan kemampuan membaca dan menulis yang tinggi yang bercirikan siswa yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas pula.
- Budaya membaca dan menulis pada hakikatnya dilakukan dengan disiplin membaca dan menulis yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Disiplin ini merupakan modal utama bagi terbentuknya jiwa disiplin dalam bidang lain. Disiplin membaca dan menulis akan membentuk pola kedisiplinan siswa pada bidang lain secara jauh lebih mudah.
- Sekolah yang mengikuti program ini akan dapat memiliki perpustakaan sekolah yang akan berkembang menjadi perpustakaan yang modern dan menjadi bagian yang integral dalam kegiatan keperpustakaan di Indonesia




